Pariwisata Aceh yang Santai Banget

Pariwisata Aceh yang Santai Banget

Pariwisata Aceh yang Santai Banget

“Belum ke Aceh kalau belum ke Sabang”

Kutipan ini merupakan pukulan telak bagi seorang yang sangat bangga menggunakan kaos yang memuat tulisan “My Trip, My Adventure” yang notabene belum pernah menginjakkan kaki ke kota yang oleh seorang “Apa” dalam video Jalan-Jalan Men edisi keliling Aceh disebut sebagai “Santai Banget”.

Lalu bagaimana jika kondisi tersebut dialami oleh seorang Anak Aceh Asli? Ya, sebut saja namanya Alwie, dan dia sama sekali belum pernah tahu bagaimana persisnya atmosfer di kota yang bahkan TNI dan GAM dapat berkomunikasi dalam satu warung kopi di meja yang sama. Padahal, beberapa kota yang indah terkenal di Indonesia, seperti di Bali dan Lombok telah dia jelajahi. Bagaimana indahnya Pantai Kuta di Bali dan serunya ber-snorkeling di Gili Terawangan, Lombok, tidak seberapa dengan keindahan yang diberikan oleh Sabang (mungkin bagian ini adalah bagaimana cara orang Aceh untuk “menjual” Sabang, hal ini juga berlaku bagi mereka yang juga “jualan” daerah asalnya. Abaikan bagian tidak penting ini). Sabang dapat memberikan lebih karena adanya kompetisi Sabang Marine Festival ini, dan karena kompetisi tersebut lahirlah tulisan ini (*edisi jujurable).

Sangat besar keinginan si Alwie untuk dapat terbang ke sana, menikmati indahnya alam yang masih “perawan”, lautan yang menggoda, keindahan bawah laut yang tiada tara, bertemu dengan masyarakat sekitar yang santai banget, dan apabila beruntung barangkali bisa bertemu dengan jodoh yang telah lama tertukar, eh maksudnya yang telah lama dinantikan, sori jadi curhat.

Kebetulan si Al – nama keren si Alwie – menempuh pendidikan sarjananya di Jawa, teman-temannya di sana selalu memberikan pertanyaan aneh dan menggelitik tentang Aceh. GAM, ganja, tsunami, dan Syariat Islam merupakan daftar pertanyaan favorit mereka, itu semua dapat dijawab dengan lancar oleh Al, merupakan sebuah beban moral yang harus dipikul oleh semua anak Aceh di perantauan untuk menjelaskan hal tersebut sedetail mungkin sampai si penanya merasa puas. Lalu bagaimana dengan pertanyaan tentang Sabang? Apakah Sabang itu berada satu pulau dengan Pulau Weh? Atau berada terpisah dengan Pulau Weh? Bagaimana cara ke Sabang? Bagaimana dengan destinasi wisata yang ditawarkan oleh Sabang? Berapa lama jarak tempuhnya? Di sana kira-kira bisa ketemu jodoh gak ya? Semua pertanyaan tersebut dijawab Al dengan sangat hati-hati, keringat dingin tampak bercucuran di wajahnya, pertanyaan tersebut hanya dijawab berdasarkan cerita dari teman-temannya yang katanya bin katanya, juga berdasarkan hasil observasi dari Abang Google. Rasa tidak puas tentu saja ada pada si pihak penanya, Al hanya bisa meyakinkan jawabannya dengan menganggukkan kepala berulang kali, predikat Anak Aceh yang melekat mulai dipertanyakan oleh teman-temannya, dan tulisan ini lama-lama kenapa berasa jadi cerita pendek. Oke, kita kembali ke pembahasan Sabang.

Penulis Alwie Augusra TA