Sedang di Simeulue Jangan Lupa ke Makam Tgk Diujung
Sedang di Simeulue Jangan Lupa ke Makam Tgk Diujung

SIMEULUE - Pagar tembok bercat hijau setinggi satu meter mengelilingi areal pemakaman seluas 300 meter di Desa Latak Ayah, Kecamatan Simelue Cut, Kabupaten Simeulue, Aceh. Ditengah areal makam, dua pusara yang telah dilapisi marmer, teronggok berdampingan. Serpihan batu karang tampak menghiasi permukaan unggukan tanah, mengganti kembang yang biasa ditabur peziarah. Siang itu, suasana di desa berjarak 70 kilometer dari Kota Sinabang itu sepi penziarah. Dari lima surau di sekitar makam, hanya satu yang terisi, itupun oleh warga setempat yang berteduh dari terik matahari yang menembus daun cemara. "Tgk Diujung", sebuah nama di pamplet berukuran 40x60 centimeter menjadi informasi bagi pengunjung tentang sosok yang bersemayam. Meski tak semasyhur Nuruddi Ar-Raniri, atau ulama sufi dan sastrawan Hamzah al Fansuri, sosok Tgk Diujung memiliki tempat di hati masyarakat Kabupaten Simeulue. Ulama asal Sumatera Barat itu, merupakan pembawa Islam pertama di Kabupaten bermoto berhati emas "Ate Fulawan". "Nama lengkapnya Tgk Halilullah. Dia ulama yang membawa Islam ke Simelue," kata Idul (30) penjaga makam Kamis 27 Oktober 2017 lalu. Idul menuturkan, kisah masuknya Islam di Simelue berawal rencana Tgk Halilulah menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Sebagai negara islam yang termaju di kawasan Asia Tenggara kala itu, membuat Tgk Halilullah mengunjungi Aceh untuk menyempurnakan ilmunya sebelum berhaji. "Saat tiba Tgk Diujung mengutarakan niatnya untuk berhaji kepada Sulthan Aceh. Tapi Sultan meminta Tgk Diujung menundanya dan menugasi Tgk Diujung mengislamkan penduduk Pulau Simelue," kata Idul. Untuk membantu Tgk Diujung dalam melaksanakan tugas mulia tersebut, Sulthan Aceh pun mengutarakan niatnya mengawinkan Tgk Halilullah dengan gadis asal Pulau Simelue yang saat itu tinggal di istana Sulthan Aceh. Kecantikan paras dan budi pekerti luhur yang dimiliki wanita bernama Putri Simeulur membuat Tgk Halilulah menerima tawaran Sulthan. "Makam yang bersebelahan dengan makam Tgk Halilullah itu merupakan makam Putri Simelur yang juga istrinya. Dia (Putri Simelur) ikut menyebarkan Islam bersama Tgk Halilullah di setelah Tiba di Simelue,"kata Idul. Meski jauh dari pusat Kota Sinabang, makam Tgk Diujung tetap ramai dikunjungi terutama saat perayaan hari besar Islam. Selain warga setempat, peziarah berasal dari Sumatera Barat yang merupakan kota kelahiran Tgk Diujung serta wisatawan dari berbagai daerah. Areal pemakaman diujung Barat Kota kepulauan itu, hanyalah satu dari sekian saksi masuknya Islam ke Pulau Simeulue. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Simeulue, Abdul Karim mengatakan selain Tgk Diujung, sosok Tgk Bakudo Batu atau Tgk Banurullah, turut berperan mengislamkan penduduk pulau Simelue yang konon dikenal dengan sebutan pulau simelur. "Jika Tgk Halilullah dari Sumatera Barat, Tgk. Banurullah berasal dari Pulau Nias dan ikut berperan dalam menyebar Islam di Simelue. Awal kisahnya hingga menyebar Islam di Simelue sama, setelah berkunjung ke Sulthan Aceh. Jika Tgk Diujung bermukim menyebar Islam di Barat Simelue, Tgk Banurullah menjalankan syiar islam di Pulau Teupah,"tutur Abdul Karim. Sebutan Tgk Bakudo Batu sendiri lanjut Abdul tidak lepas dari keberadaan makam Tgk Banurullah yang berada di atas gunung batu. Hal itu sesuai permintaannya sebelum wafat agar pengikutnya memakamkan jasad Tgk Banurullah di atas gunung batu. "Saya tidak tahu pasti, tapi menurut cerita, pengikutnya sempat bertanya bagaimana mungkin menggali kuburan di atas batu tapi dijawab Tgk Banurullah cukup ambil sisa air mandi jenazahnya dan disiramkan ke batu besar yang tak jauh dari masjid yang dia bangun,"cujar Abdul. Sejumlah barang peninggalan kedua ulama tersebut kata Abdul Haris, masih disimpan ahli waris keduannya. Jika Tgk diujung meninggalkan Sorban serta peralatan makan atau tombak, maka ahli waris Tgk Banurullah, menyimpan Alquran bertulis tangan yang menjadi bekalnya mendalami Islam saat meninggalkan Nias menuju Kabupaten Simelue. Kisah Tgk Halilullah, adalah salah satu pesona yang ditawarkan jika berkunjung ke Desa Latak Ayah di pesisir barat Kota Simeulue. Selain menambah pengetahuan tentang sejarah masuknya Islam di Simeulue, pengunjung dapat menikmati gurihnya daging lobster dari tangkapan nelayan setempat. Sambil menunggu seluruhnya tersaji di meja, pengunjung dapat menikmati birunya laut dengan hamparan perahu nelayan yang tertambat di sisi pantai. Riuhnya ombak yang menghempas karang atau liukkan Ikan Rambue (Giant Trevall) yang dapat di lihat berenang di kaki warung, merupakan sensasi yang ditawarkan pemilik warung di sekitar makam. Meski memakan waktu lebih kurang 1 jam untuk tiba di lokasi namun lelah yang dirasakan selama perjalanan akan hilang jika tiba di lokasi. Penasaran,? yuk kunjungi Simeulue Cut.